Wadaikaltim.id, BALIKPAPAN – Upaya percepatan Program Menu Bergizi (MBG) di Kalimantan Timur kembali diperkuat melalui pelaksanaan Forum Group Discussion (FGD) yang mempertemukan berbagai unsur terkait.
Dalam forum tersebut, para peserta menyoroti sejumlah tantangan utama, mulai dari ketersediaan bahan pangan, kualitas SDM pengelola dapur, hingga penerapan standar kesehatan dalam setiap tahap penyajian makanan.
Satgas BGN dari beragam instansi bersepakat untuk meningkatkan pendampingan dan memberikan contoh praktik dapur yang profesional. Sistem pengelolaan yang diterapkan SPPG Polda Kaltim bahkan mendapat sorotan positif karena dinilai telah mengikuti SOP dan prinsip higienitas secara menyeluruh.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, menilai SPPG Polda Kaltim telah menerapkan konsep dapur sehat sesuai standar.
“Semoga SPPG Polda Kaltim dijadikan sebagai underbow di Indonesia. Khususnya, di Kaltim,” ungkapnya.
Komitmen serupa disampaikan Kabidokkes Polda Kaltim melalui Subbiddokpol Drg. Muh Irfan Siregar. Ia menegaskan bahwa setiap bahan pangan yang masuk selalu diuji untuk memastikan keamanan konsumsi.
“Kami sangat komitmen agar menjaga kualitas makanan sampai ke tangan masyarakat,” ujarnya.
FGD tersebut turut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Kepala BGN Korwil Kaltim Binti Maulina Putri, Sekda Kota Balikpapan Muhaimin, Kasubdit 2 Dit Intelkam Polda Kaltim Kompol Agung Nursapto, serta para pimpinan instansi seperti BPOM, Disdikbud, Kemenag, dan DKP3 Balikpapan. Perwakilan SPPG serta jurnalis se-Kaltim juga turut hadir dalam diskusi strategis ini.
Dalam paparannya, Kompol Agung Nursapto menekankan bahwa MBG menjadi fondasi penting untuk mendukung pemenuhan gizi personel dan memperkuat ketahanan fisik.
“Program MBG ini kami harapkan mampu menjadi model pengelolaan pangan yang sehat dan berkelanjutan,” ungkapnya mewakili Direktur Dit Intelkam Polda Kaltim.
Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan ahli gizi dalam mengembangkan dapur modern yang higienis dan aman. Dengan pengawasan ketat, Polri menargetkan terciptanya “Zero Accident” di lingkungan dapur SPPG.
Meski sebagian bahan pangan di Kaltim masih bergantung pada pasokan dari Sulawesi dan Jawa, Kompol Agung optimistis bahwa potensi lokal ke depan mampu menjadi tumpuan utama menu MBG.
“Melalui kerja sama lintas sektor, kami berharap tidak hanya meningkatkan ketahanan pangan internal Kaltim, tetapi juga berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat luas,” imbuhnya.
Dukungan kuat juga datang dari Pemerintah Daerah. Sekda Balikpapan, Muhaimin, menyebut SPPG Polda Kaltim layak dijadikan acuan.
“SPPG Polri bisa dianggap sebagai role model sebagai pelaksanaan MBG di Kaltim. Mungkin SPPG yang lain yang baru bisa melakukan anjangsana untuk melihat prosesnya,” kata Sekda Muhaimin.
Apresiasi turut diberikan Kepala BGN Regional Kaltim, Binti Maulina Putri.
“Kegiatan Rapites (Rapid Test) yang dilakukan Polri bisa sebagai contoh untuk SPPG yang lain,” ujarnya.
FGD tersebut diharapkan menjadi langkah penting untuk membangun sistem dapur yang sehat, bergizi, aman, serta bebas dari potensi KLB. Kolaborasi yang solid antarinstansi dinilai menjadi kunci untuk mewujudkan ketahanan pangan yang berdaulat di Kaltim dan Indonesia.


















